
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42)
Di antara bisikan doa dan gema pujian, nama lahir dari beningnya hati yang berserah. Nama itu adalah “Getzemane”, yang kini menjadi identitas baru umtuk Paduan Suara Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi Wilayah Slawi. Bukan sekadar nama, melainkan pernyataan iman yang dirajut dari kisah lama dan hasrat yang masih menyala untuk memuliakan Tuhan lewat senandung pujian tulus dan penuh makna.

Ditetapkan dalam percakapan di wilayah Slawi saat latihan paduan suara. Nama “Getzemane” menyimpan jejak langkah Tuhan Yesus di taman zaitun yang sunyi. Dalam bahasa Aram, “Gat Shemané” berarti tempat pemerasan minyak, simbol dari tekanan batin yang menghasilkan sesuatu berharga. Taman Getsemani bukan sekadar tempat, melainkian peristiwa. Sebuah peristiwa, ketika Sang Juruselamat mengucap doa paling dalam dari lubuk hati-Nya: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”
Di sanalah, dalam kegelapan malam dan dingin tanah, tercurah seluruh isi hati Yesus. Pergumulan yang kini menjadi sumber inspirasi bagi jemaat yang terhimpun dalam Paduan Suara Wilayah Slawi.

Benih nama ini telah ditanam jauh sebelum penetapan nama. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Salu Panggalo, SH : “Saat Wilayah Slawi pertama kali melayani dalam Ibadah Jumat Agung Tahun 2024 dengan lagu “Taman Getsemani”, ada sesuatu yang menyentuh jiwa. Lagu itu tidak hanya dinyanyikan, lagu itu hidup, beresonansi, dan mengakar dalam hati. Bahkan pada tahun ini, jemaat anggota paduan suara kembali memilih lagu yang sama tanpa direncanakan. Dari getar iman itu, muncul kerinduan untuk mengabadikan nama Getzemane menjadi nama yang melekat: Paduan Suara Getzemane.” Ungkapnya melalui pesan singkat melalui WhatsApp (WA).

Nama Getzemane menjadi buah dari refleksi kolektif jemaat wilayah Slawi, Dari bahasa Aram, Gat Shemané – tempat pemerasan minyak – mengalir ke Yunani sebagai Gethsēmaní (Γεθσημανί), lalu diterjemahkan sebagai Getsemani dalam Bahasa Indonesia dan Gethsemane dalam Bahasa Inggris. Maknanya tetap sama :Tempat di mana jiwa diremukkan untuk melahirkan kasih. Di taman itu, Yesus berdoa, menyerah total pada kehendak Bapa. Nama itu disematkan, sebagai lambang pujian yang lahir dari penyerahan dan ketulusan hati.

Pdt. Sugeng Prihadi, selaku pendeta jemaat GKJ Slawi, menyampaikan: “Wilayah Slawi punya pesona, karisma, dan kedisiplinan dalam bernyanyi. Biarlah ini menjadi talenta secara komunal untuk terus berlatih dan tampil memuji nama Tuhan. Sementara wilayah Procot/Kudaile dan wilayah Pangkah tentu memiliki karunia dan talenta yang berbeda. Maka perbedaan tersebut menjadi kekayaan jemaat GKJ Slawi dalam memuliakan Tuhan.” Ujarnya.

Sesungguhnya paduan suara tidak sekedar sekelompok pelantun nada. Mereka adalah penjaga nyala api rohani, yang dengan setia merangkai pujian dalam ibadah, perayaan gerejawi, dan pertemuan oikumenis. Dengan jumlah yang lebih dari 15 anggota, Paduan Suara Getzemane kini menjadi saksi, bahwa pelayanan sejati lahir dari hati yang terpanggil dengan penuh pengharapan untuk memuji nama Tuhan.
Di balik tiap not dan harmoni suara, ada doa yang terucap melalui nada. Semua itu merupakan persembahan. Dan seperti minyak zaitun yang diperas dari batu, kemurnian pujian lahir dari proses yang sunyi namun penuh makna. (Red)