
Prupuk, 17 April 2025 – Aroma sayur pare yang agak getir dan pahit, perlahan menyusup di antara kursi-kursi kayu dalam ruang ibadah. Di tengah peribadahan yang sakral itulah, Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi Pepanthan Prupuk tidak sekadar mengenang Perjamuan Terakhir, tetapi menghayatinya. Penghayatan itu salah satunya diwujudkan dengan hati yang terbuka saling membasuh kaki, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.
Ibadah Kamis Putih yang dilayani oleh Pdt. Sugeng Prihadi membawa jemaat menelusuri tiga peristiwa besar yang terjadi di malam sebelum penyaliban Tuhan Yesus: Pembasuhan kaki, Perjamuan Kudus, dan Perjamuan kasih. Dalam khotbah bertajuk “Melayani dengan Hati”, Pdt. Sugeng menegaskan bahwa kasih sejati tidak tumbuh dari keinginan dilayani, melainkan dari kerelaan merendahkan diri demi orang lain.

“Yesus tidak memilih memberi khotbah yang panjang saat itu. Ia hanya mengambil baskom dan handuk, lalu membasuh kaki murid-murid-Nya, termasuk Yudas yang akan mengkhianati-Nya. Inilah Injil dalam bentuk tindakan,” ujar Pdt. Sugeng dalam khotbahnya.
Satu per satu jemaat berdiri, membuka alas kaki mereka. Tidak hanya Pdt. Sugeng yang membasuk kaki, turut terlibat juga Pnt. Edy Purwanto, Pnt, Muhayanto, Dkn. Ranggi Pratama dan Dkn. Naomi. Dengan sigap dan ketulusan hati Majelis GKJ Slawi Pep. Prupuk membasuh kaki jemaat. Jemaatpun tidak mau kalah, mereka bergantian saling membasuh sebagai penghayatan pelayanan yang mau merendahkan diri

Pembasuhan kaki saudara seiman. Tak ada pangkat, tak ada hirarki. Semua sejajar dalam kasih Kristus. Bagi Ibu Elsih Letari, peristiwa itu begitu menyentuh. “Ibadah Kamis Putih ini cukup baik untuk menggugah kesadaran saya dan jemaat dalam terlibat pelayanan. Ada simbol pembasuhan kaki, supaya kita mau melayani dengan hati seperti Yesus yang melayani,” ujarnya dengan bahagia.
Usai ibadah Kamis Putih jemaat dengan suka cita menyantap makan malam sederhana yang mereka bawa dari rumah dengan lauk sayur pare yang terasa getir agak kepahit-pahitan. Pahitnya bukan masalah rasa, tapi lambang refleksi akan pahitnya dosa dan penderitaan yang ditanggung Kristus.

Pak Suyanto, salah satu jemaat yang hadir, menyambut dengan sukacita tradisi ini. “Tradisi yang baik ini perlu diteruskan, supaya jemaat dapat memahami ibadah Kamis Putih dengan saling melayani,” katanya.
Gereja malam itu menjadi ruang belajar tentang kasih yang tak bersyarat, pengampunan yang melampaui logika, dan pelayanan yang lahir dari hati yang rela merendah.
Sebab seperti kata Sang Guru: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Red)