Balapulang, 19 April 2025, Suasana hening menyelimuti Gedung GKJ Slawi Pepanthan Balapulang. Tepat pukul 18.00 WIB, Jemaat  mengadakan Ibadah Sabtu Sunyi, sebuah perenungan mendalam tentang kematian  Yesus di dalam kubur. Jemaat yang hadir mengenakan busana bernuansa hitam, sebagai simbol perkabungan dan penyesalan atas dosa, sekaligus bentuk penghayatan spiritual terhadap karya keselamatan Kristus.

Ibadah yang berlangsung dengan suasana mengalir ini dilayani secara bergantian oleh empat pelayan jemaat: Diaken Eni Rudatin, Diaken Yahyono Budi S., Pendeta Sugeng Prihadi, dan Penatua Iman Hadi Santoso. Keempat majelis membawa jemaat memasuki refleksi Sabtu Sunyi. Hari di mana tidak ada tanda-tanda kemenangan, hanya keheningan, kesedihan, dan pertanyaan-pertanyaan besar yang menggantung di langit malam.

Mengusung tema “Merenungkan Salib Kristus”, ibadah ini tidak hanya menyoroti penderitaan Yesus, tetapi juga mengajak  jemaat memaknai kembali realitas duka yang sering hadir dalam kehidupan manusia.

“Perasaan kehilangan adalah salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam kehidupan manusia. Duka bisa mengguncang tubuh dan jiwa kita, membuat kita kehilangan arah dan harapan. Namun Sabtu Sunyi mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa dalam keheningan dan dukacita, kasih Tuhan tetap bekerja,” demikian sapaan dari Mimbar oleh Pendeta Sugeng dalam renungan malam itu.

Melalui Ratapan 3:1–9 dan Mazmur 31, jemaat diajak menyelami jeritan jiwa yang hancur karena penderitaan. Namun di tengah kesuraman, ada secercah pengharapan. Hidup kita tetap dalam tangan Tuhan. Keheningan Sabtu Sunyi bukanlah akhir dari cerita, melainkan saat di mana Tuhan bekerja secara diam-diam, mempersiapkan kebangkitan.

Bacaan Injil dari Matius 27:57–66 memperlihatkan berbagai respons manusia terhadap kematian Yesus. Dari Yusuf Arimatea yang berani bertindak dalam kasih, para perempuan yang setia hadir di kubur, hingga para pemimpin agama yang dikuasai ketakutan dan kontrol. Jemaat diajak untuk merenung: dalam menghadapi duka, apakah kita menjadi pribadi yang tetap berkarya dalam kasih, atau justru membiarkan iman kita padam?

Ibadah ditutup dengan perenungan dari 1 Petrus 4:1–8, yang mengingatkan bahwa penderitaan Kristus adalah panggilan untuk hidup dalam kasih. Dalam duka, kita tetap dipanggil untuk saling mengasihi, karena kasih menutupi banyak dosa.

Ibadah Sabtu Sunyi  bukan hanya mengenang, tetapi menghadirkan pengalaman spiritual yang membangkitkan kesadaran jemaat akan pentingnya kehadiran, ketekunan, dan kasih di tengah keheningan dan kehilangan (Red)

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *