Slawi — Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti perayaan ulang tahun ke-58 Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi, Jumat (15/8/2025). Mengusung tema “Dipimpin untuk Melayani, Diutus untuk Menjadi Berkat”, perayaan ini menjadi momen refleksi spiritual yang mendalam bagi  jemaat, termasuk dari Pepanthan Balapulang dan Pepanthan Prupuk.

Ibadah syukur dikemas dengan refleksi Puji dan Sabda, diwarnai pujian, perenungan firman, hingga testimoni jemaat. Menghadirkan suasana kontemplatif dengan iringan musik band dari pemuda remaja GKJ Slawi.

Bukan Sekadar Nostalgia, Melangkah Bersama Tuhan

Perayaan dimulai dengan lagu “Bila Engkau Tak Besertaku”  mengingatkan bahwa keberadaan gereja tak lepas dari penyertaan Tuhan. Dalam narasi pembuka, jemaat diajak merenungi perjalanan 58 tahun sebagai kisah pertumbuhan iman yang dilandasi kasih, kepedulian, dan kebersamaan.

“Kami sadar, berjalan bersama Tuhan bukan hanya tentang berkat yang kami terima, tetapi juga tentang kesediaan menanggalkan ego dan membangun kebersamaan,” ujar Diaken Yermi Arnani dalam pengantar liturgi.

Pertobatan sebagai Cermin Pelayanan

Bagian refleksi dilanjutkan dengan pengakuan dosa, merujuk pada Yeremia 14:20. Dalam keheningan ibadah, jemaat diajak datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan rendah hati.

“Saudara, jika memang hati kita terluka oleh dosa menangislah. Karena Tuhan tidak menolak hati yang hancur dan remuk,” demikian pesan yang disampaikan Diaken Henny A. Susanto sebelum pujian “Lingkupiku” mengalun lembut.

Kristus: Teladan Kepemimpinan dalam Kerendahan Hati

Mengutip Injil Yohanes 13:14-15, narasi firman menekankan teladan Kristus sebagai pemimpin yang melayani. Jemaat diajak meneladani kerendahan hati Yesus, bahkan rela membasuh kaki murid-murid-Nya.

“Pelayanan sejati bukan tentang posisi teratas, melainkan tentang kerendahan hati,” menjadi refleksi yang mempertegas arah pelayanan GKJ Slawi ke depan.

Tiga Generasi Pelayanan, Satu Visi

Puncak ibadah ditandai dengan penyampaian refleksi pelayanan GKJ Slawi oleh Pdt. Sugeng Prihadi. Ia menyampaikan  gereja ini dibangun dan bertumbuh melalui pengabdian dua pendeta jemaat dan satu calon pendeta terpilih :

  1. Pdt. Samuel Wiryosumarto telah menanam dan merawat benih pelayanan di awal.
  2. Pdt. Sugeng Prihadi telah menyiram dan merawat jemaat dengan kasih pastoral penggembalaan.
  3. Calon Pendeta Yudha Waskito telah hadir dengan semangat baru akan menyegarkan ladang pelayanan.

Ketiganya merepresentasikan semangat 1 Korintus 3:6, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”

Gereja Sebagai Bahtera di Tengah Tantangan Zaman

Lagu “Gereja Bagai Bahtera” dinyanyikan sebagai simbol ibarat gereja adalah kapal yang mengarungi badai kehidupan, namun tetap dikendalikan oleh tangan Tuhan. Pertanyaan reflektif pun diajukan:

  1. Apakah gereja hanya akan berhenti pada kebanggaan masa lalu dan sekarang?
  2. Apakah kita hadir hanya untuk dilayani atau untuk melayani?
  3. Apakah kita siap diutus menjadi berkat?

Menjadi Gereja yang Hidup dan Melayani

Refleksi tersebut menegaskan bahwa setiap jemaat adalah pelayan, bukan sekadar penonton dalam pelayanan. Gereja harus keluar dari zona nyaman dan hadir di tengah dunia yang membutuhkan kasih.

“Gereja ini diutus bukan sekedar dilihat hebat, tapi supaya menjadi berkat, Semua orang memiliki talenta yang berbeda dalam membangun gereja, seperti yang sudah dilakukan oleh Rasul Paulus dan Apolos, mereka berkarya namun Tuhanlah yang menumbuhkan” ungkap Penatua Trianto Budiatmoko dalam sambutannya..

Dalam konteks sosial, gereja juga diajak peduli pada mereka yang lapar, haus, tertindas, dan terabaikan. Pelayanan harus menyentuh realitas.

Persembahan Sebagai Wujud Syukur

Sebagai respons atas kasih Tuhan, jemaat mempersembahkan pujian “Sungguh Kubangga Bapa” dan memberikan persembahan dengan sukacita. Bukan hanya berupa materi, tetapi juga komitmen dan cinta yang tulus kepada pelayanan Tuhan.

“Ini Aku, Utuslah Aku”

Ibadah reflektif ditutup dengan lagu “Aku Tuhan Semesta” (PKJ 177), menanggapi panggilan Tuhan dalam Yesaya 6:8: “Siapa yang mau pergi untuk Aku?”

Jawaban jemaat GKJ Slawi serentak dalam hati tanpa harus diucap: “Ini aku, utuslah aku.”

Perjamuan Kasih sebagai Ungkapan Sukacita

Kebersamaan dilanjutkan dalam perjamuan kasih sederhana sambil beramah tamah. Jemaat menikmati makanan khas seperti soto, perkedel, kerupuk, serta snack pisang, kacang, jagung, dan singkong. Keluarga Bapak Sukimin dan Ibu Widi turut berbagi 150 kotak Mango Sago sebagai wujud sukacita mereka.

Menuju Tahun ke-59: Bertumbuh dan Menjadi Berkat

Tahun ke-58 bukanlah titik akhir, melainkan pijakan menuju perjalanan baru. GKJ Slawi kembali diingatkan untuk terus bertumbuh dalam pelayanan, menjadi gereja yang hidup, relevan, dan berdampak,  bukan demi nama besar, melainkan demi kemuliaan Tuhan.

Dulu gereja hanya bangunan kecil dengan ukuran 6 x 8. Jemaat hadir antara 25-30 orang per minggunya. Sekarang gereja sudah terlihat megah. Pertumbuhan gereja cukup pesat dari tahun 1963 sebagai jemaat mula-mula hingga sekarang, jemaat yang terus berkembang” jelas Wasirun Woryosumarto, putera Pdt. Emeritus Samuel Wiryosumarto dalam testimoninya,

Dengan semangat bersama, jemaat menyongsong tahun ke-59 ke depan dalam satu visi: Dipimpin untuk melayani. Diutus untuk menjadi berkat. (sugeng ph/Red)

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *