Slawi, Matahari belum tinggi ketika persekutuan jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi bersekutu di ruang ibadah, Minggu pagi, 7 September 2025. Hari itu bukan hari Minggu biasa. Setelah kurang lebih tiga tahun lamanya, gedung GKJ Slawi dalam proses renovasi, kini sejarah mencatat, Panitia Renovasi Gedung GKJ Slawi secara simbolis menyerahkan hasil kerja panjang yang disertai pergumulan iman dan pengharapan kepada Majelis dan jemaat gereja.

Prosesi penyerahan dilakukan dalam ibadah Minggu. Simbol penyerahan diawali dengan penandatanganan berita acara oleh Pak Salu Panggalo, SH, mewakili panitia, dan diterima  oleh Pdt. Sugeng Prihadi, mewakili Majelis dan jemaat GKJ Slawi. Selanjutnya diserahkan berkas administrasi oleh Pak L.Agus Supranto ke Ibu Hasta Handayani, dan berkas keuangan oleh Ibu Elisabeth Sunarti ke Ibu Dwi Woro Utami.

Seremoni  menjadi pusat perhatian jemaat saat itu. Suara Pak Salu yang mulai bergetar, terbata, dan akhirnya pecah dalam tangis. Tangis itu yang tidak dirancang, tidak direkayasa. Menggambarkan letih, syukur, dan pergumulan iman yang telah dilewati ujian demi ujian.

“Kami bersyukur kepada Tuhan atas segala penyertaan-Nya. Tidak mudah, tapi kami terus percaya,” ucapnya dengan suara serak, menahan tangisan dalam menyampaikan sambutan.

Dari Lesehan, ke Batu Pertama

Renovasi ini bukan proyek pembangunan biasa. Renovasi itu adalah perjalanan iman. Dimulai dari mandat Majelis GKJ Slawi melalui SK Nomor A.01/M.GKJ.S/1/2022 pada awal tahun 2022, dan diperkuat dengan SK Persetujuan Bangunan Gedung dari Bupati Tegal pada tanggal 15 Juni 2022.

Keputusan membongkar gedung bukan tanpa dinamika. Pada Minggu terakhir bulan Juli 2022, jemaat menggelar ibadah terakhir di dalam bangunan lama. Tak ada kursi pada hari itu, jemaat duduk lesehan, seolah menjadi simbol kerendahan hati di hadapan rencana Tuhan yang lebih besar.

Esok harinya, Senin 1 Agustus 2022, pembongkaran dilakukan dengan simbolis “lorodan gendeng” (menurunkan genting) Dilakukan oleh Pak Salu Panggalo, SH, diikuti oleh Dkn. Yermi Arnani selaku Majelis, Pak Ir. Risang Sri Nugroho dan Ibu Susantiningsih mewakili jemaat GKJ Slawi. Genting yang diturunkan diterima oleh Pdt. Sugeng Prihadi.

“Kami pasrahkan gedung ini untuk dirobohkan. karena karya Tuhan Yesus yang akan bertindak nanti dalam renovasi” ujar Pdt. Sugeng saat itu.

Satu pekan kemudian, tepatnya pada hari Senin, 8 Agustus 2022 pukul 08.00 WIB, proses pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama. Persekutuan Doa  khusus digelar, mengambil perenungan dari Kitab Hagai 2:18-19. Sebuah ajakan jemaat berharap pada masa depan yang dijanjikan, bahwa Tuhan Yesus tidak akan meninggalkan umat dalam proses renovasi.

Menitip Iman di Balapulang

Selama proses renovasi, jemaat GKJ Slawi tidak pernah berhenti beribadah. Jemaat menitipkan iman dalam peribadahan di GKJ Slawi Pepanthan Balapulang. Dari minggu ke minggu, perjalanan menuju tempat ibadah sementara tak pernah menjadi alasan untuk mengendurkan semangat pelayanan.

“Gereja bukan hanya bangunan. Tapi relasi dan kebersamaan kita dalam Tuhan,” ungkap salah satu jemaat lansia yang tetap rutin hadir, meski harus menempuh jarak lebih jauh. Ia bersama jemaat lain ikut naik bus yang disediakan gereja.

Tembok yang Menolak Intoleransi

Kini, bangunan gereja berdiri. Lebih kokoh, lebih luas, tapi juga lebih terbuka. Di salah satu dinding luar, akan dipasang prasasti legalitas berupa Persetujuan Bangunan Gedung dari Pemkab Tegal. Letaknya strategis, dekat pintu utama. Tujuannya bukan untuk pamer legalitas semata, tapi sebagai bentuk keterbukaan dan dialog di tengah masyarakat.

“Kami ingin masyarakat tahu, pembangunan ini sah dan legal. Supaya tidak ada lagi ruang untuk intoleransi yang kerap menyerang dari ketidaktahuan,” ujar Pdt. Sugeng

Perjamuan Kasih, Penutup yang Membuka Harapan

Setelah ibadah dan penyerahan simbolis, seluruh jemaat  diundang dalam perjamuan kasih, sebuah jamuan makan sebagai ungkapan syukur. Di meja makan itu, tidak ada perbedaan antara panitia, majelis, atau jemaat. Semua duduk bersama, bersyukur atas proses renovasi gedung yang sudah tuntas.

Kini, gedung GKJ Slawi berdiri megah. Bukan hanya sebagai bangunan fisik, tapi sebagai proses iman, kerja keras, dan harapan akan masa depan gereja yang terus menjadi terang di tengah Kampung Arab (sugeng ph/Red)

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *