
Pangkah — Menjelang perayaan Natal, warga Kristen di wilayah Pangkah kembali merawat tradisi tahunan yakni: nyekar. Bukan sekadar ziarah makam, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenang dan merefleksikan hidup, sekaligus meneguhkan iman bahwa orang yang percaya pada Yesus nanti akan dibangkitkan kembali dan mendapat hidup kekal di sorga.
Menurut Arri Budiono Setiawan, rangkaian kegiatan diawali dengan kerja bakti membersihkan makam pada Senin, 22 Desember 2025. Meski makam telah disiapkan tenaga kebersihan, kehadiran warga yang akan membantu dipersilahkan dengan semangat kebersamaan.

“Puncak kegiatan berlangsung pada hari Rabu, 24 Desember 2025. Mulai pukul 07.00 WIB, warga nyekar di Pemakaman Kristen Pangkah, dilanjutkan ke Pemakaman Dukuhwungu. Perjalanan ziarah nyekar ditutup dengan sarapan bersama dan doa ucapan syukur di kediaman Lince Aling pada pukul 09.00 WIB” ujar Arri Budiono
Dalam iman Kristen, nyekar menjelang Natal bukanlah bentuk pemujaan arwah, melainkan ungkapan syukur atas kehidupan yang telah dijalani para pendahulu. Doa-doa dipanjatkan bukan untuk mendoakan arwah yang sudah meninggal, melainkan sebagai wujud kasih, sekaligus pengakuan iman bahwa hidup dan mati berada dalam tangan Tuhan. Natal sendiri menjadi pengingat bahwa Kristus datang membawa pengharapan, bahkan melampaui batas kematian.

Tradisi ini mengajarkan bahwa iman tidak hanya dirayakan di altar gereja, tetapi juga dirawat dalam ingatan, relasi keluarga, dan kesediaan untuk berhenti sejenak, mengenang, dan bersyukur. Di tengah kesibukan, nyekar menjadi cara sederhana untuk meneguhkan iman, dan menyongsong Natal dengan hati yang lebih utuh (Red)