Pagi itu, Kota Slawi tidak sekadar terbangun dari cahaya mentari. Ia dibangunkan oleh harapan baru. Di sudut jalan K.H. Achmad Dahlan C/17, dimana GKJ Slawi berada, seperti pelita yang menunggu dinyalakan kembali oleh kisah paling agung dalam sejarah iman. Kisah tentang refleksi kubur yang kosong, gelap dan sunyi menjadi benderang dalam Paskah yang menghidupkan.

Langit masih bersaput kabut, namun suasana hati sudah mulai menghangat. Jemaat dan orang percaya yang singgah di Slawi dan mau beribadah mulai berdatangan. Langkah mereka pelan tapi pasti, seolah tahu pagi ini bukan sekadar ibadah biasa. Ibadah Minggu ini adalah perjumpaan istimewa. Setelah  melewati Triduum Paschale, sekarang masuk dalam pengharapan besar : Paskah dan kebangkitanNya. Kerinduan agar luka-luka yang ada dengan iman  dipulihkan.

Di depan mimbar, Paduan Suara Getzemane tertata rapi berdiri. Dalam diam sejenak mereka berdoa. Terlihat dada yang tergetar oleh alur nafas. Mereka memang bukan artis, tetapi mereka  jemaat yang akan menjadi saksi.. Mereka adalah suara nada yang bersedia menjadi alat bagi Tuhan, bagi cinta, dan bagi kebangkitan Kristus.

Warna baju putih yang membalut tubuh  menyiratkan ketulusan, sementara sleyer ungu yang menjuntai di bahu bertuliskan “PS Getzemane” adalah refleksi kisah penanda perjalanan, dari Getsemani, tempat Yesus berdoa dengan darah dan air mata, menuju kebangkitan.

Dan ketika  lagu “Memandang Salib”  mengalun, ruangan seolah berubah menjadi ruang suci yang tak lagi diukur oleh dinding, tapi oleh getar hati. Suara sopran melambung seperti bisikan doa seorang ibu, suara alto menenangkan seperti pelukan dalam duka, suara tenor menjembatani langit dan bumi, dan suara bass mengakar seperti iman seorang ayah yang diam dengan setia. Semua suara menyatu, bukan untuk menunjukkan siapa paling kuat, tapi sebuah harmoni dalam kesatuan.

Ketika Mengingat Menjadi Jalan Pulang

Paskah  mengusung tema: “Mengingat, Percaya, dan Menjadi Saksi.” Dan sungguh, pagi itu bukan tentang selebrasi. Tapi tentang perjalanan batin menuju terang. Sapaan dari mimbar yang disampaikan Pdt. Sugeng Prihadi mengisahkan kembali pagi paling sepi dalam sejarah. Ketika para perempuan datang ke kubur dengan rempah-rempah di tangan dan tetesan air mata dipelupuk. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berjalan ke arah mujizat. Kubur itu telah kosong.

“Mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati? Ia tidak ada di sini. Ia telah bangkit…”

Dari ingatan akan sabda itu, tumbuhlah iman. Karena mengingat bukan hanya soal masa lalu. Mengingat adalah menoleh pada jejak kasih Allah, di luka kita, di air mata yang pernah jatuh, di doa-doa yang dulu tak dijawab dengan cara yang kita minta, tapi sekarang  dijawab dengan sesuatu yang tak diduga.

Ketika Percaya Tidak Harus Bukti, Tapi Butuh Hati yang Terbuka

Percaya bukan perkara mudah. Bahkan para rasul pun awalnya ragu. Ketika kabar kebangkitan datang dari mulut perempuan, mereka menggeleng: “Itu omong kosong.” Karena sering kali, iman tidak muncul dari apa yang dilihat mata, tapi dari apa yang diingat jiwa.

Seperti Ibu Salu Panggalo, sang dirigen, yang dengan kesabaran  mengolah suara-suara jemaat. Dari yang muda dan yang tua menjadi harmoni. Ia percaya bahwa pujian yang berserah,  bisa melampaui lirik yang  lahir dari hati yang percaya. Nama Tuhan pun dimuliakan melalui pujian.

Pada pagi itu, setiap nada menjadi pelita. Bukan hanya untuk jemaat, tapi juga bagi mereka sendiri. Pujian adalah kesaksian yang memberkati dan perlu berani mempersembahkan dengan ketulusan.

Ketika Kesaksian Tak Perlu Panggung Besar

Lalu, apa makna dari semua ini jika tidak mengubah hidup? Paskah bukanlah akhir. Ia adalah awal  dari kesaksian. Kesaksian bahwa hidup, meski retak, tetap layak dijalani. Bahwa kasih, meski sering dikhianati, tetap pantas diperjuangkan. Bahwa Tuhan, meski tak terlihat, tetap setia menyertai umatNya.

Paduan Suara Getzemane bersaksi lewat pujian, yang tidak mencari tepuk tangan, tapi harus mampu nmenghadirkan damai. Sementara itu jemaat bersaksi lewat pelayanan  menyeberangi batas. Berbagi dengan tetangga gereja dan umat lain melalui paket lebaran, donor darah, kunjungan ke Pondok Pesantren, siaran radio. Semua bersaksi lewat komitmen sesuai dengan talenta, bahkan melalui persembahan yang tak hanya berupa uang, tapi juga kerelaan berbagi perhatian, kehadiran dan doa.

Paskah yang Hidup dalam Kita

Ketika ibadah usai, dan langkah jemaat kembali memasuki ke dunia yang sama, ada yang berbeda. Bukan pada jalan yang mereka lewati, tapi pada cara mereka melangkah dan bersaksi. Paskah tidak selesai di gereja. Ia hidup dalam hati jemaat yang lebih tulus, dalam pelukan yang lebih hangat, dalam suara yang lebih ramah, dalam doa yang lebih jujur.

Di bawah langit Kota Slawi yang kini cerah sepenuhnya, Paduan Suara Getzemane tak hanya meninggalkan suara. Mereka meninggalkan pujian kesaksian yang terus menggema di hati. Luar biasa. (Red).

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *