
Di balik alunan pujian jemaat yang menggema di ruang ibadah, berdiri tegak petugas berbaju cokelat di luar tembok gereja. Mereka tidak duduk dalam diam, tetapi berdiri dengan sorot mata yang teliti dan telinga yang jeli. Mereka hadir sebagai petugas menjaga ketenangan dan keamanan umat Kristiani yang beribadah.
Selama rangkaian ibadah Triduum Paschale, berlangsung sejak Kamis Putih, 17 April 2025 hingga Minggu Paskah, 20 April 2025, ada kehadiran anggota Polres Tegal dan Polsek Slawi. Berdiri dalam senyap yang tak diliput kamera, menjalankan tugas pengamanan dengan penuh dedikasi, menjadi representasi nyata dari bagian negara yang hadir melindungi warganya.
Pdt. Dr. Sugeng Prihadi, pendeta jemaat di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi, bersama Majelis dan jemaat dari Induk Slawi dan pepanthan Balapulang serta Prupuk, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam, atas dukungan pengamanan yang diberikan selama perayaan Paskah.

“Petugas dari kepolisian hadir tidak hanya menjaga keamanan fisik, tetapi juga menghadirkan rasa damai dalam batin kami. Kami merasa dilindungi, dihargai, dan diperhatikan,” ujar Pdt. Sugeng.
Menurutnya, kehadiran para petugas bukan semata rutinitas, tetapi wujud komitmen pelayanan yang luar biasa dari kepolisian. Semboyan Polri, “Melindungi, Mengayomi, dan Melayani”, bukan sekadar jargon. Ia menjadi nyata dalam tindakan diam, berdiri tegak, tanpa tepuk tangan, tanpa panggung, namun sangat bermakna bagi umat Kristen maupun Katolik yang sedang beribadah.
Pada Minggu Paskah, Kapolsek Slawi AKP Bambang Marsudiyanto turut hadir di GKJ Slawi. Dengan rendah hati dan kewibawaannya ia menyapa dan menyampaikan semangat persaudaraan yang tulus kepada pendeta dan jemaat GKJ Slawi.

“Kami bertugas sesuai dengan semboyan dan tekad untuk masyarakat. Gereja adalah bagian dari masyarakat yang harus kami jaga saat menjalankan ibadahnya,” ujarnya singkat.
Tak hanya itu, Kapolres Tegal, AKBP Bayu Prasatyo, juga menyempatkan hadir pada hari Jumat, 18 April 2025. Meski ibadah telah berlangsung dan beliau menyempatkan diri menengok jemaat di ruang lantai dua. Itu dilakukan menjadi simbol kuat bahwa negara senantiasa hadir untuk masyarakat dalam konteks keamanan dalam beribadah.
Di tengah derasnya kritik yang kadang tak proporsional di media sosial terhadap institusi kepolisian, kehadiran petugas yang menjaga ibadah di beberapa tempat seperti ini patut mendapat perhatian dan apresiasi. Tidak ada institusi yang sempurna. Namun ketika pelayanan dan perlindungan diberikan tanpa pamrih, maka keadilan moral mengajak kita memberi penghormatan yang setimpal.

Langkah pengamanan yang dilakukan Polri selama Paskah ini bukan sekadar protokol teknis. Itu merupakan manifestasi dari strategi kebangsaan: deteksi dini, tindakan preventif, dan pelayanan publik yang berpihak pada ketenangan umat. Umat Kristiani dapat beribadah dengan damai, karena ada tangan negara yang siap menjaga.
Kehadiran Polres Tegal dalam ibadah umat adalah pengingat: bahwa negara tidak absen dari ruang iman, bahwa perlindungan bukan hanya tugas, tapi panggilan pengabdian yang tulus tanpa pamrih (Red).