Langit Slawi malam itu memayungi  pertemuan rasa. Antara seni yang lembut dan jiwa-jiwa muda yang haus akan makna. Di aula kecil yang menjadi saksi, sekitar 60 mahasiswa Universitas Terbuka duduk bersila, bersiap menyambut malam yang akan menaburkan warna, nada, dan gerak ke dalam ruang pikir mereka.

Adalah Dewan Kesenian Kabupaten Tegal yang menggandeng tangan-tangan muda ini dalam sebuah Workshop Seni yang tak sekadar ajang pembelajaran, tetapi juga perayaan keberanian untuk bermimpi lewat karya.

Kanvas yang Bicara

Di sudut aula, lelaki sepuh dengan kuas di tangan berdiri tenang di depan sebidang kanvas kosong. Ia adalah Pranowo, pelukis senior yang selama puluhan tahun telah menjadikan warna sebagai bahasa jiwanya.

“Kuas itu seperti hati,” katanya, pelan tapi pasti. “Kalau kalian sabar mendengarkannya, ia akan bicara tentang apa yang tak bisa kalian ucapkan.”

Para mahasiswa, yang semula ragu, mulai menggoreskan warna di atas kanvas mereka masing-masing. Tak ada yang benar, tak ada yang salah hanya cerita yang ingin mereka bagi lewat garis dan gradasi.

Nada yang Menghidupkan Ingatan

Sementara itu, di sisi lain ruangan, nada-nada nostalgia menyeruak. Tangan Teguh, Dyon, dan Junaedi menari di atas senar dan tuts, membawakan lagu-lagu lawas yang seperti menghidupkan kembali kenangan-kenangan yang bahkan belum pernah mereka alami.

“Musik itu bukan soal seberapa merdunya,” ujar Pak Dyon sambil tersenyum, “tapi seberapa dalam ia bisa mengetuk ruang dalam hati kita.”

Malam menjadi hangat mahasiswa yang biasanya hanya mengenal nada dalam bentuk teori, kini larut dalam harmoni langsung, mengangguk, tersenyum, bahkan beberapa ikut bersenandung kecil.

Renggong Manis, Tari dari Jiwa Perempuan

Namun puncak malam itu mungkin hadir lewat tubuh-tubuh yang berbicara. Yermi Arnani, penata tari, dan Sri Widodo, pengrawit yang tekun, menghadirkan Tari Renggong Manis  tarian kreasi yang diciptakan pada 2017. Dengan iringan karawitan langsung, gerakan demi gerakan tari itu menjelma menjadi kisah — tentang kelembutan, tentang kekuatan, dan tentang perempuan yang tak gentar menyampaikan rasa.

Mahasiswa menyimak dengan mata yang penuh ingin tahu. “Bagaimana menciptakan tari dari nol?” tanya salah satu dari mereka. Yermi menjawab bukan dengan teori, melainkan dengan kisah. Bahwa tari bukan sekadar gerak, melainkan olahan rasa, pikiran, dan keyakinan bahwa setiap tubuh bisa bercerita.

Dua Jam yang Menyentuh Ujung Jiwa

Tak terasa, dua jam berlalu seperti arus yang membawa para mahasiswa menyelami samudra seni. Malam ditutup dengan tepuk tangan, pelukan makna, dan janji untuk terus berkarya, sekecil apa pun bentuknya.

Junaedi, dosen mata kuliah seni di Universitas Terbuka, menyampaikan harapannya, “Kami ingin mahasiswa tak hanya memahami seni, tapi mengalaminya. Merasakan betapa seni bisa menyentuh, menyembuhkan, dan menguatkan.”

Workshop itu memang usai, namun getarnya masih tersisa. Di kanvas-kanvas kecil, di nada-nada yang tersimpan, dan di gerak tubuh yang ingin bicara lebih banyak tentang dunia mereka. Karena pada akhirnya, seni bukan milik para maestro saja. Ia milik siapa pun yang mau mendengarkan getar hatinya sendiri (yermia/Red)

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *