
Bumijawa – Di bawah rindang pohon bambu yang bergemerisik halus tertiup angin, aroma jajanan pasar dan wedang uwuh menyeruak. Mengundang untuk singgah sebentar. Inilah Pasar Slumpring, oase kecil di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, yang bukan sekadar tempat jual beli, melainkan tempat healing ekologi secara holistik akan alam, tradisi, dan rasa syukur yang terucap.
Pasar Slumpring buka setiap hari Minggu pagi, pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Kami datang sekitar pukul 09.00 pagi, berdua dengan sepeda motor Honda Beat, menyusuri jalan Banjaranyar – Batu Agung – Jenggini – Bumi Jawa dan Cempaka yang relatif mulus dan nyaman dilalui. Sejuknya angin pegunungan menjadi pengantar kami menuju lokasi.
Setiba di sana, kami membayar tiket masuk dan parkir motor sebesar Rp15.000 untuk dua orang. Transaksi di pasar ini tidak menggunakan uang tunai langsung, melainkan dengan koin bambu yang bisa diperoleh di bilik penukaran. Sistem ini tak hanya memberi nuansa etnik, tapi juga menjadi bagian dari edukasi ramah lingkungan yang diusung pengelola.

Satu Langkah Masuk Terasa Seribu Rasa di Hati
Langkah pertama kami memasuki pasar disambut lagu Pelangi di Matamu dari band lokal yang tampil live. Tidak ada hiruk-pikuk bising, hanya suara musik, desir angin, dan percakapan hangat antarpengunjung. Pasar ini seperti sepenggal dunia yang berjalan lebih pelan, lebih lembut, lebih manusiawi.
Kami mencicipi rujak, gorengan, klepon, jagung rebus, dan wedang uwuh. Semuanya dibuat oleh tangan-tangan warga Desa Cempaka. Rasanya sederhana, tapi nikmat. Bukan hanya soal lidah, tapi juga hati. Makanan di sini seperti cerita yang diwariskan turun-temurun, disajikan dengan penuh cinta.
“Pasar Slumpring ini bukan hanya tempat jualan. Ini bagian dari komitmen warga untuk menjaga alam dan hidup selaras dengan lingkungan,” ujar Abdul Khayyi, Ketua Pokdarwis Pasar Slumpring.

Di Antara Bambu, Ada Kehidupan yang Dijaga
Lokasi pasar yang berada di tengah hutan bambu bukan kebetulan. Warga setempat menyebutnya “pring”, yang tak hanya memberi kesejukan, tapi juga fungsi ekologis vital. Di bawah pasar mengalir Tuk Mudal. Mata air yang menopang lebih dari 200 hektar sawah di sekitarnya.

“Kalau hutan bambu ini dibabat, tanah tak lagi menyimpan air. Itu sebabnya lokasi ini harus dijaga,” tambah Khayyi.
Nama “Slumpring” sendiri berasal dari “selompring”, artinya “di dalam hutan bambu”. Bambu tak hanya jadi latar, tapi jiwa dari pasar ini. Setiap batang bambu berdiri sebagai pengingat bahwa keberlanjutanhidup yang tak bisa ditawar.
Pedagang di Pasar Slumpring pun semuanya berasal dari Desa Cempaka. Ada keadilan yang ditegakkan secara lokal, namun memberi ruang inklusif bagi warga sekitar yang ingin berdagang di luar area utama. Sebuah contoh tata kelola wisata berbasis komunitas yang layak dicontoh.

Healing Tipis-tipis yang Membumi
Pasar Slumpring mungkin bukan destinasi megah dengan wahana buatan atau pertunjukan spektakuler. Namun di balik kesederhanaannya, tempat ini menyuguhkan pengalaman rekreasi yang menyentuh dan membumi.
Di sini, orang datang bukan hanya untuk kenyang, tapi untuk diingatkan kembali akan akar, akan tanah, akan tradisi, dan akan betapa berharganya alam yang masih lestari. Tak heran jika banyak pengunjung menyebut kunjungan ke Pasar Slumpring sebagai “healing tipis-tipis” yang meninggalkan kesan mendalam.
Kami pulang sekitar pukul 10.45 WIB. Perut kenyang, hati tenang. Di sepanjang perjalanan pulang, semilir angin membawa rasa syukur, bahwa di tengah dunia yang serba cepat, masih ada ruang untuk berjalan pelan, merasakan hangatnya manusia, dan mendengar suara alam yang tak pernah memaksa, hanya mengajak.

Hidup kadang hanya butuh sesaat di bawah bambu, secangkir wedang uwuh, dan tawa hangat dalam tradisi (sugeng ph/Red)