SLAWI — Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal, Melisda Novelita Napitu, S.Th, mengajak kaum perempuan Kristen belajar melepaskan beban yang tidak perlu dipikul dan menemukan damai sejahtera dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan ketika menjadi pembawa firman dalam Ibadah Wanita Jemaat Gereja-Gereja se-Badan Kerja Sama Gereja (BKSG) Kabupaten Tegal di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi, pada hari Selasa (15/9/2026).

Mengangkat tema “Melepaskan Beban, Menemukan Damai” berdasarkan Lukas 10:38-42, Melisda merefleksikan kisah Maria dan Marta yang menerima Yesus di rumah mereka.

Menurutnya kisah Maria dan Marta tidak sekadar berbicara mengenai perbedaan antara bekerja dan duduk mendengarkan Tuhan. Kisah tersebut juga mengajak wanita gereja melihat bagaimana kesibukan, tanggung jawab, bahkan pelayanan dapat berubah menjadi beban ketika hati dikuasai kekhawatiran.

“Setiap perempuan memiliki berbagai peran dan tanggung jawab. Namun, tidak semua beban harus dipikul sendiri. Kita perlu belajar mengetahui mana yang menjadi prioritas dan menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan,” demikian pesan yang disampaikan dalam ibadah tersebut.

Melalui refleksi itu, Melisda mengajak jemaat untuk menjalani berbagai tanggung jawab dengan hati yang lebih tenang. Kedekatan dengan Tuhan, menurutnya, menjadi sumber kekuatan agar perempuan tetap mampu menjalankan perannya di keluarga, gereja maupun masyarakat tanpa kehilangan damai sejahtera.

Pesan tersebut mendapat tempat penting dalam persekutuan wanita lintas gereja karena kehidupan perempuan sering kali bersentuhan dengan berbagai tanggung jawab sekaligus. Karena itu, pembinaan iman tidak hanya dibutuhkan untuk menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga untuk memberikan kekuatan spiritual dalam menghadapi kehidupan nyata.

Penyuluh hadir di tengah umat

Kehadiran Melisda dalam kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan peran Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama dalam melakukan pembinaan dan pendampingan umat.

Penyuluh agama tidak hanya hadir dalam kegiatan keagamaan yang bersifat formal, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun kehidupan umat yang rukun, dewasa dalam iman, dan mampu menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial.

Ibadah wanita se-BKSG Kabupaten Tegal menjadi salah satu ruang strategis bagi pelayanan tersebut. Di dalamnya, perempuan dari berbagai gereja dan denominasi dapat berjumpa, beribadah bersama, serta membangun persaudaraan.

Ketua Komisi Wanita BKSG Kabupaten Tegal, Lulut Widyastuti, mengatakan kegiatan tersebut memang diarahkan untuk mewujudkan keesaan dan persaudaraan lintas denominasi.

“Tujuan utama diadakannya ibadah wanita jemaat se-BKSG Kabupaten Tegal adalah mewujudkan keesaan dan persaudaraan lintas denominasi,” ujarnya.

Semangat tersebut mendapat dukungan dari Catur Antonius Widodo dari GKJ Mejasem. Ia berharap kegiatan ibadah wanita dapat dilanjutkan secara bergantian di gereja-gereja anggota BKSG.

Menurut Catur, selain memberikan ruang bagi kaum perempuan untuk bersekutu dan beribadah bersama, kegiatan tersebut dapat semakin memperkuat persekutuan oikumene.

Sementara itu, Pdt. Bambang Wijanarko menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan ibadah wanita tersebut. Ia juga mengingatkan pentingnya mendukung pelayanan bersama BKSG, termasuk pelayanan bagi warga binaan di Lapas Tegal Andong serta Siaran Rohani Agama Kristen melalui Radio Slawi FM.

Pendeta Jemaat GKJ Slawi, Pdt. Sugeng Prihadi, menyambut baik penggunaan gedung GKJ Slawi untuk kegiatan bersama tersebut. Menurutnya, hal itu menjadi bentuk nyata semangat oikumene di antara gereja-gereja anggota BKSG Kabupaten Tegal.

Bagi Melisda, pelayanan sebagai Penyuluh Agama Kristen pada akhirnya bukan hanya tentang menyampaikan firman, tetapi juga bagaimana nilai-nilai firman tersebut dapat menjadi kekuatan bagi umat dalam menjalani kehidupan.

Melalui tema “Melepaskan Beban, Menemukan Damai”, perempuan diajak untuk tidak menjadikan kesibukan sebagai ukuran keberhasilan hidup. Ada saatnya bekerja, ada saatnya berhenti sejenak, mendengarkan Tuhan, dan menemukan kembali sumber damai yang sering kali hilang di tengah berbagai tuntutan kehidupan.

Ibadah tersebut pun menjadi gambaran bahwa pembinaan umat dapat berjalan beriringan dengan penguatan persaudaraan lintas gereja. Di tengah keberagaman denominasi, umat tetap dapat duduk bersama, mendengarkan firman yang sama, dan membangun kesaksian bersama tentang kasih dan damai sejahtera.

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *