LEBAKSIU –  Istighosah Kebangsaan yang digelar di Lapangan Lebakgowah, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jumat (18/9/2026) malam, tidak hanya menjadi peristiwa doa dan zikir bersama, tetapi  menghadirkan pesan kuat tentang persatuan dan kerukunan umat beragama.

Salah satu rangkaian penting dalam kegiatan tersebut adalah doa lintas agama yang melibatkan utusan dari enam agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Masing-masing utusan menyampaikan doa menurut keyakinan masing-masing, dengan muatan yang sama-sama mengarah pada keselamatan, kedamaian, persatuan bangsa, dan kerukunan masyarakat.

Kegiatan tersebut terselenggara dalam rangka Program Istighosah Kebangsaan dan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Berdasarkan rundown acara, doa lintas agama dijadwalkan berlangsung setelah istighosah dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sebelum dilanjutkan dengan sholawat bersama, kajian kebangsaan dan kerukunan umat beragama.

K.H. Aqib Malik salah satu panitia penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat Tegal.

“Semoga melalui acara ini bumi Tegal tercinta semakin damai dan toleransi antarumat beragama semakin kuat, apalagi disaksikan para santri dan masyarakat umum,” ujarnya.

Kehadiran para utusan agama dalam satu panggung doa menunjukkan bahwa ikhtiar menjaga kedamaian tidak hanya dilakukan melalui dialog dalam forum resmi, tetapi juga melalui ruang-ruang kebersamaan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Bagi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), momentum seperti ini memiliki arti lebih luas. Pertemuan lintas agama yang berlangsung secara terbuka memungkinkan para tokoh agama membangun komunikasi, saling mengenal, dan memahami kondisi masing-masing komunitas.

Hubungan semacam itu dapat menjadi bagian dari early warning system kerukunan, terutama dalam konteks pencegahan konflik sosial-keagamaan. FKUB memang bukan lembaga early warning system formal dalam pengertian kelembagaan penanggulangan bencana atau keamanan. Namun, jejaring komunikasi lintas agama yang aktif dapat menjadi salah satu sarana untuk mengenali lebih awal gejala ketegangan, menyampaikan informasi, serta membangun respons bersama sebelum persoalan berkembang menjadi konflik.

Salah satu tokoh agama yang ikut memberikan doa dalam Istighosah Kebangsaan, Pdt. Dr. Sugeng Prihadi menyambut baik dalam rangka mewujudkan kerukunan antar umat beragama.

“Kabupaten Tegal yang memiliki perbedaan, termasuk di dalamnya masalah agama dan kepercayaan semua itu merupakan anugrah dari Tuhan. Kiranya perbedaan itu menjadi sebuah kekayaan bersama, sehingga toleransi antar umat beragama terus ditingkatkan” ungkapnya.

Dengan demikian, doa lintas agama dalam Istighosah Kebangsaan tidak berhenti pada simbol kebersamaan. Ia juga memperlihatkan pentingnya membangun hubungan sosial lintas iman secara terus-menerus. Ketika komunikasi telah terbangun sebelum persoalan muncul, masyarakat memiliki modal sosial yang lebih kuat untuk menjaga kedamaian ketika menghadapi persoalan bersama.

Istighosah Kebangsaan di Lebakgowang akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara spiritualitas, kebangsaan, dan kerukunan. Doa dipanjatkan dengan cara yang berbeda, tetapi harapan yang disampaikan bertemu pada satu kepentingan bersama. Tegal yang damai, masyarakat yang rukun, dan Indonesia yang tetap bersatu.

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *