SLAWI – Sabtu sore, 15 Agustus 2026, suasana GKJ Slawi di Jalan K.H. Achmad Dahlan C/17 terasa berbeda. Tepat pukul 17.00 WIB, sekitar seratus warga jemaat dari GKJ Slawi, Pepanthan Balapulang, dan Pepanthan Prupuk berkumpul dalam suasana sukacita untuk merayakan Hari Ulang Tahun ke-59 Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi.

Bukan  perayaan yang dibuat megah dan formal. Ibadah Puji dan Sabda dikemas mengalir, hangat, dan akrab. Ruangan temaram dengan dominasi warna merah menghadirkan suasana teduh sekaligus semangat beribadah. Dari awal hingga akhir, perayaan terasa seperti  keluarga besar yang sedang berkumpul di rumahnya sendiri.

Tiga pemimpin pujian, Dkn. Henny A. Susanto, Dkn. Yermi Arnani, dan Dkn. Dwi Woro Utami, mengajak jemaat bernyanyi dan memuji Tuhan. Iringan band Pemuda Remaja membuat suasana semakin hidup. Generasi muda tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi mengambil bagian dalam pelayanan.

Di tengah suasana tersebut, Pdt. K.R.T. Sugeng Prihadi, pendeta jemaat GKJ Slawi, membawa jemaat merenungkan tema HUT ke-59. “Trilogi Cahaya: Mewujudkan Gereja sebagai Rumah Bersama.”

Berangkat dari 1 Korintus 3:6, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan,” jemaat diajak melihat perjalanan GKJ Slawi bukan sebagai kisah tentang siapa yang paling berjasa, melainkan sebagai sebuah perjalanan iman yang dikerjakan bersama.

Benih, Akar, dan Dahan

Dalam refleksinya, Pdt. Sugeng memperkenalkan Trilogi Cahaya: Benih, Akar, dan Dahan.

Benih mengingatkan pada Ds. Samuel Wiryosumarto, yang menanam benih pelayanan GKJ Slawi. Dari kesederhanaan sebuah rumah yang juga digunakan sebagai tempat ibadah, benih itu bertumbuh hingga pada 15 Agustus 1967 GKJ Slawi menjadi gereja dewasa.

Benih kemudian membutuhkan akar. Pelayanan diteruskan oleh Pdt. K.R.T. Sugeng Prihadi yang diibaratkan akar, memperkuat kehidupan gereja dalam iman, kemandirian, kebersamaan, dan keberanian  terus percaya pada pemeliharaan Tuhan.

Kini, tongkat estafet bergerak menuju generasi berikutnya melalui Vikaris Yudha Waskito, yang digambarkan sebagai dahan baru. Dahan yang akan menjangkau lebih jauh.

Namun Trilogi Cahaya bukanlah kisah tentang tiga orang.

Benih, akar, dan dahan adalah satu pohon. Tidak ada yang dapat mengatakan dirinya paling penting atau paling berjasa. Semuanya mempunyai tempat dalam satu kehidupan yang sama. Kehidupan itu, seperti yang ditegaskan Paulus, tetap berada dalam karya Allah yang memberikan pertumbuhan.

Karena itu, pertanyaan gereja pada usia 59 tahun bukan lagi “Siapa yang paling berjasa?”, melainkan “Apa yang dapat kita teruskan?”

Menghormati mereka yang telah menanam. Menjaga akar yang telah dibangun. Dan memberikan ruang bagi dahan-dahan baru untuk bertumbuh.

Gereja sebagai Rumah Bersama

Tema “Mewujudkan Gereja sebagai Rumah Bersama” menemukan maknanya dalam perjalanan tersebut.

Rumah bersama bukanlah rumah tanpa perbedaan. Justru rumah bersama adalah tempat di mana perbedaan tidak membuat orang berhenti menjadi saudara.

Generasi lama memberikan akar. Generasi baru membawa pertumbuhan. Keduanya tidak harus saling menggantikan, tetapi saling melengkapi dalam satu iman kepada Kristus.

Pesan itu menjadi sangat relevan bagi GKJ Slawi yang terus bertumbuh sebagai komunitas lintas generasi. Gereja bukan panggung untuk menentukan siapa yang paling hebat, melainkan rumah untuk menghadirkan shalom, keteduhan, penerimaan, pemulihan, dan ruang bagi setiap generasi.

Suasana kebersamaan juga semakin terasa ketika di sela-sela ibadah diberikan doa berkat bagi jemaat yang sedang berulang tahun dan pasangan suami istri yang memperingati ulang tahun pernikahan. Perayaan gereja menjadi sekaligus perayaan kehidupan umatnya.

Dari Ibadah Menuju Meja Perjamuan Kebersamaan

Usai ibadah, sukacita berlanjut dalam resepsi sederhana. Sambutan Majelis disampaikan oleh Pnt. Trianto Budiatmoko, yang kemudian dilanjutkan dengan momen simbolis penyerahan foto Trilogi Cahaya oleh Vikaris Yudha Waskito kepada Majelis Induk Slawi, Majelis Pepanthan Balapulang, dan Majelis Pepanthan Prupuk.

Ada pesan yang kuat dalam penyerahan tersebut: Trilogi Cahaya bukan milik satu pribadi, tetapi menjadi bagian dari perjalanan bersama seluruh keluarga GKJ Slawi.

Suasana kemudian menjadi semakin cair ketika secara spontan dilakukan pemotongan kue HUT ke-59 oleh Vikaris Yudha Waskito. Tidak ada jarak antara pendeta, vikaris, majelis, pemuda, anak-anak, dan jemaat. Semua melebur dalam sukacita yang sama.

Perayaan akhirnya ditutup dengan makan bersama. Sederhana, tetapi justru di sanalah makna rumah bersama terasa paling nyata. Orang-orang duduk bersama, berbicara, tertawa, dan menikmati hidangan dalam satu meja.

Lima puluh sembilan tahun telah berlalu. Ada yang menanam. Ada yang menyiram. Ada yang menjaga akar. Ada yang memperlihatkan dahan. Tetapi semuanya percaya pada satu kebenaran: Allah yang memberi pertumbuhan.

Memasuki usia ke-59, GKJ Slawi tidak hanya merayakan masa lalu. GKJ Slawi sedang menatap masa depan.

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *