Slawi, 17 Agustus 2026 – Matahari pagi baru saja naik ketika satu per satu para lanjut usia mulai berdatangan. Mereka tidak datang dengan langkah tergesa-gesa. Sebagian berjalan perlahan, sebagian lainnya saling menunggu dan menyapa.

Pagi itu, halaman parkir dalam GKJ Slawi berubah menjadi tempat perjumpaan. Kursi-kursi telah disiapkan berjajar. Maklum, para peserta adalah Adiyuswo, sebutan bagi warga lanjut usia di lingkungan Sinode. Duduk bukan berarti kehilangan semangat. Justru dari kursi-kursi itulah semangat kebersamaan terwujud.

Sekitar 40 anggota Komisi Adiyuswo Simeon GKJ Slawi berkumpul untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tidak ada lapangan luas dengan barisan yang kaku. Tidak pula ada langkah tegap seperti upacara pada masa muda mereka.

Bapak Sunarna bertugas sebagai pembina upacara sementara itu Bapak Yoseph Iswinarno menjadi pemimpin upacara, dibantu Bapak Mudiyono sebagai pemimpin barisan. Petugas yang lain Bapak Wasirun membacakan Pembukaan UUD 1945, sementara itu doa dipimpin Bapak Rudito Ellya. Sebagai protokol ibu Susantiningsih, Ibu Sri Rejeki  sebagai dirigen daam menyanyikan lagu kebangsaan, serta Ibu Henny membawa teks Pancasila.

Mereka mungkin tidak lagi muda. Tetapi semangat untuk memperingati kemerdekaan masih menyala. Tema yang diusung sederhana, tetapi dalam: “Tetap Bersyukur.”

Kemerdekaan yang Dirayakan dengan Syukur

Bagi para Adiyuswo, kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang sejarah bangsa. Kemerdekaan juga menjadi kesempatan untuk mensyukuri kehidupan yang masih dianugerahkan Tuhan. Apa pun keadaan yang sedang dihadapi, selalu ada alasan untuk bersyukur.

Dari rasa syukur itulah tumbuh kebahagiaan. Dan bagi mereka, kebahagiaan bukan sekadar perasaan sesaat. Kebahagiaan perlu diupayakan. Sebab itu, para Adiyuswo Simeon tidak membiarkan usia membuat mereka berhenti berjumpa.

Setiap hari Selasa, mereka mengadakan kegiatan doa pagi dan Pemahaman Alkitab, yang kemudian dilanjutkan dengan senam, latihan pujian, atau sekadar medang bareng, duduk bersama sambil menikmati minuman dan percakapan.

Pada hari Selasa minggu keempat setiap bulan, Pemahaman Alkitab kembali menjadi ruang perjumpaan. Setelahnya, mereka menikmati perjamuan kasih melalui sarapan bersama. Bagi orang lain, kegiatan itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi para lansia, perjumpaan adalah energi.

Bertemu teman sebaya, bercakap-cakap, tertawa bersama, berdoa dan bernyanyi bersama adalah cara mereka menjaga agar hidup tetap memiliki ruang untuk sukacita.

Ketika Makanan Menjadi Bahasa Persaudaraan

Pagi peringatan kemerdekaan HUR ke 81 Kemerdekaan RI menjadi semakin meriah ketika para Adiyuswo menyiapkan makananyang dibawa dari rumah. Meja  dipenuhi makanan. Ada nasi, kerupuk terung, kerupuk udang, kerupuk gendar, pepes tahu, oseng tahu, tahu goreng, bacem tempe, telur balado, urap, sambal goreng kentang, ikan asin, pisang, lemper, lemet, hingga roti bolu.

Seolah-olah satu meja tidak akan pernah cukup untuk menampung seluruh kerinduan mereka untuk berbagi. Ada satu persoalan yang kemudian muncul, makanan boleh banyak, tetapi ruang di perut tetap terbatas.

Peserta yang membawa lebih memberikan kepada yang lain.,yang menerima pun menerimanya dengan sukacita. Kurang lebih maknanya apa yang dibawa, mari dibagikan; apa yang diterima, mari diterima dengan lapang hati. Ada kerelaan untuk memberi dan menerima.

Dari makanan yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain itu, sesungguhnya sedang berlangsung sesuatu yang jauh lebih penting persaudaraan sedang dirawat.

Tetap Berdaya dalam Keterbatasan

Dalam keterbatasan, tubuh tidak lagi sekuat dahulu. Langkah mungkin lebih lambat. Duduk di kursi menjadi pilihan yang lebih nyaman dibanding berdiri terlalu lama. Tetapi keterbatasan tidak selalu berarti kehilangan daya.

Dalam keterbatasan itu masih ada sesuatu yang terus memancar, semangat  hidup, keinginan untuk berjumpa, kemauan untuk berbagi, dan keberanian untuk tetap bersukacita. Para Adiyuswo Simeon menunjukkan bahwa menjadi lanjut usia bukan berarti berhenti menjadi berarti.

Mereka masih dapat berkumpul. Masih dapat berdoa. Masih dapat bernyanyi. Masih dapat belajar. Masih dapat berolahraga. Masih dapat membawa makanan dari rumah. Tentu saja, masih dapat membuat orang lain tersenyum.

Pagi itu, kemerdekaan dirayakan bukan dengan kemeriahan yang berlebihan. Ia hadir melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana perjumpaan.

Empat puluh orang berkumpul, duduk bersama, mengenang kemerdekaan, mensyukuri kehidupan, lalu makan dari makanan yang dibawa bersama. Dari sana tampak sebuah pesan yang mungkin sederhana, tetapi penting,  selama masih ada alasan untuk bersyukur, selalu ada alasan untuk bahagia. Selama masih ada ruang untuk berjumpa, para Adiyuswo akan terus memiliki alasan untuk menjadi berguna.

Pagi itu mereka seperti hendak mengatakan kepada siapa pun yang melihat: Usia boleh bertambah. Kekuatan boleh berkurang. Tetapi semangat untuk bersyukur jangan pernah padam.

Karena itu, para Adiyuswo Simeon memilih untuk terus melangkah dengan tiga kata: Semangat. Bahagia. Berguna.

Menjelang kegiatan berakhir, suasana kembali cair. Pantun pun dilontarkan:

Banyak semut di atas papan,
Sedang makan gula-gula.
Selamat menyambut Hari Kemerdekaan,
Merdeka, merdeka, merdeka!

Pagi pun beranjak siang.

Para Adiyuswo pulang membawa tubuh yang mungkin tetap sama tuanya, tetapi hati yang terasa sedikit lebih muda. Mereka telah kembali menemukan apa yang sering kali paling dibutuhkan manusia pada usia berapa pun (Hasta/Red)

 

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *